RCNNEWS.ID //PALANGKA RAYA.
Duka mendalam bercampur amarah kini menyelimuti hati dua tokoh Masyarakat Adat, Raja Gunung dan Ifank (Dayak Blinga). Di hadapan awak media RCNNEWS.ID, keduanya akhirnya membeberkan isi hati dan kekecewaan besarnya atas perlakuan yang mereka terima dari orang yang sebenarnya telah mereka bela mati-matian, Tono Priyanto BG.
Semua bermula dari niat tulus untuk membantu menyelesaikan sengketa lahan milik Tono Priyanto BG yang hingga kini belum dibayar ganti ruginya oleh pihak perusahaan tambang PT. Asmin Bara Baronang (PT. ABB). Melihat hak saudaranya tidak dipenuhi, Raja Gunung dan Ifank tergerak hatinya untuk turun ke lapangan melakukan aksi damai. Tujuannya satu, supaya PT. ABB mau melunasi hak milik Tono tersebut.

Namun, siapa sangka, niat baik tersebut justru berujung pada tragedi berdarah yang nyaris merenggut nyawa mereka.
Di tengah aksi damai yang seharusnya hanya menuntut keadilan, mereka justru disambut dengan kekerasan fisik yang luar biasa. Oknum aparat melepaskan tembakan dan mengayunkan senjata tajam ke tubuh mereka. Akibat kejadian mengerikan itu, Raja Gunung dan Ifank terbaring dengan luka tembak di sekujur tubuh serta luka bacok dibagian belakang. Bahkan, istri ifank mengalami keguguran akibat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh salah satu oknum Aparat dilapangan akibat kejadian itu menyebabkan istri salah satu korban mengalami trauma yang hebat karna kejadian itu.
Darah sudah tumpah, nyawa sudah hampir melayang, dan tubuh penuh bekas luka. Mereka berharap penderitaan itu akan menjadi bukti keseriusan mereka memperjuangkan hak milik Tono Priyanto BG.
Namun kenyataan berkata lain. Pukulan paling menyakitkan justru datang bukan dari aparat atau perusahaan, melainkan dari orang yang mereka perjuangkan haknya.
Saat mereka masih terbaring lemah dalam masa pemulihan, saat luka tembak dan bacok di badan belum kering sembuh, sebuah kabar mengejutkan datang. Tono Priyanto BG secara sepihak mencabut Surat Kuasa yang telah ia berikan kepada Raja Gunung dan Ifank.
Belum hilang rasa sakit itu, muncul lagi pernyataan yang membuat darah mereka mendidih. Tono Priyanto BG beserta Ormas-ormas pendukungnya mengeluarkan surat penolakan berisi poin-poin yang sangat menyakiti hati. Dalam surat tersebut, ia menyebutkan bahwa insiden penembakan itu murni kesalahan prosedur (SOP) aparat dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah tanah.
Bahkan, yang paling membuat mereka tak habis pikir, Tono dan Ormas-ormas oendukungnya menuduh Raja Gunung dan Ifank seolah-olah bekerja sama atau mengada-ada demi mencari keuntungan pribadi di atas tanah tersebut.
Kepada awak media RCNNEWS.ID, suara Raja Gunung dan Ifank terdengar bergetar menahan emosi.
“Apakah mata Saudara Tono Cs sudah buta hingga tidak melihat tubuh kami penuh bekas peluru dan bacok? Apakah bagi beliau keguguran istri saya, darah yang kami tumpahkan, dan nyawa yang kami pertaruhkan itu hanyalah sekadar ‘kesalahan prosedur’?” ujar Ifank(Dayak Blinga) dengan nada kecewa.
Raja Gunung pun tak kalah tegas menanggapi tudingan tersebut.
“Kami mati-matian, kami dijadikan tersangka, kami hampir mati demi hak beliau. Tapi apa balasannya? Surat nya Dicabut lalu dituduh lagi kami penipu yang ingin menguasai tanah nya. Pemikiran macam apa ini? Ini sungguh di luar akal sehat manusia. Apakah beliau tidak punya hati nurani sedikit pun?” tegas Raja Gunung.
Mereka menyayangkan sikap Tono Priyanto BG yang seolah-olah melupakan seluruh jasa dan pengorbanan nyawa yang telah dilakukan orang-orang yang tulus membela haknya.
“Kami sadar sekarang, kami berkorban untuk orang yang salah. Kami bertaruh nyawa untuk seseorang yang ternyata hatinya sudah mati rasa dan tidak mengenal rasa terima kasih,” tambah mereka.
Di akhir pernyataannya kepada media, mereka menegaskan bahwa kisah ini dibuka bukan untuk meminta simpati, melainkan agar masyarakat tahu kebenarannya. Bahwa di tanah ini, ada pengorbanan tulus yang dibalas dengan pengkhianatan yang begitu kejam.
“Kami tidak menyesal membela kebenaran, kami hanya sangat menyesal pernah percaya padanya,” pungkas mereka.
(Hariyoso).












