Berita

FILOSOFI HUMA BETANG: Kawal Pemerintahan dengan Elegan, Tolak Arogansi Jalanan

Avatar photo
18
×

FILOSOFI HUMA BETANG: Kawal Pemerintahan dengan Elegan, Tolak Arogansi Jalanan

Sebarkan artikel ini

RCNNEWS.ID //PALANGKARAYA.

Menyikapi dinamika sosial dan politik yang belakangan ini terjadi di Kalimantan Tengah, terutama terkait aspirasi publik soal kelangkaan BBM dan evaluasi kinerja Dinas PUPR, seorang tokoh muda sekaligus pemerhati daerah dari kalangan Pemuda Dayak angkat bicara. Ia menilai, sudah saatnya arah pergerakan masyarakat sipil dikembalikan ke jalan yang benar, sesuai dengan akar budaya leluhur.

Menurutnya, Tanah Dayak atau Bumi Tambun Bungai ini berdiri kokoh di atas Filosofi Huma Betang — sebuah ajaran hidup yang menjunjung tinggi kebersamaan, musyawarah, dan penyelesaian masalah dengan kepala dingin serta akal sehat. Mengawasi pemerintahan adalah kewajiban moral, namun cara menyuarakan kebenaran tidak boleh menghancurkan adab kita sendiri.

“Turun ke jalan dan mengkritik kebijakan pemerintah adalah instrumen demokrasi yang sakral. Aksi tersebut harus berorientasi pada penyelesaian masalah rakyat, bukan sekadar seremoni atau panggung unjuk gigi kelompok tertentu. Perjuangan harus berpusat pada substansi, bukan sensasi,” tegasnya.

Ia dengan tegas menolak setiap gerakan yang menggunakan kekerasan verbal, makian, hingga intimidasi fisik. Ketidakpuasan harus dilawan dengan data, analisis tajam, dan argumen logis. Mencaci maki institusi atau tokoh hanya akan menghilangkan simpati publik dan mengaburkan tujuan awal.

“Sebagai pemerhati, kita wajib bersikap keras memastikan aturan berjalan. Tapi ‘keras’ itu artinya teguh prinsip, berintegritas, dan berani bicara benar. Keras bukan berarti beringas atau bertindak seperti preman di luar hukum,” tambahnya.

Ia juga mengingatkan, setajam apa pun kritik, jangan sampai memutus tali silaturahmi. Boleh berbeda pandangan dengan pemerintah, namun kita semua masih tinggal dalam satu semangat Huma Betang. Menjaga kedamaian dan toleransi adalah harga mati.

Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh pemuda, mahasiswa, dan aktivis Kalteng untuk kembali ke jalur intelektual.

“Mari kawal pembangunan dengan gagasan cerdas dan kritik terukur. Jangan biarkan Tanah Dayak dinodai arogansi jalanan. Kita buktikan kita bisa berdemokrasi dengan elegan, tajam, dan bermartabat,” pungkasnya.

(Hariyoso).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *