Berita

Antrean panjang BBM di Palangka Raya, pernyataan stok aman tak sesuai kenyataan di lapangan

Avatar photo
8
×

Antrean panjang BBM di Palangka Raya, pernyataan stok aman tak sesuai kenyataan di lapangan

Sebarkan artikel ini

RCNNEWS.ID //PALANGKA RAYA.

9 Mei 2026.

Sejak pukul 04.30 pagi, antrean kendaraan sudah memadati hampir seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Warga berdatangan untuk membeli bahan bakar minyak jenis Pertalite maupun Pertamax guna memenuhi kebutuhan kendaraan bermotor sehari-hari. Kondisi ini berlangsung meski pemerintah dan PT Pertamina sebelumnya menyatakan stok BBM dalam keadaan aman.

Ketika awak media RCNNEWS melakukan pengecekan langsung sekitar pukul 06.00 WIB di SPBU yang berada di Jalan Rajawali, seorang petugas yang ditemui mengaku tidak mengetahui penyebab terjadinya antrean panjang tersebut.

“Saya tidak tahu penyebabnya mas kenapa kok sampai antre,” ujar petugas tersebut singkat saat dimintai keterangan.

Keresahan masyarakat semakin mendalam lantaran pernyataan resmi yang disampaikan berbeda dengan kondisi yang dirasakan di lapangan. Sebelumnya, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah dalam pemberitaan sejumlah media menyatakan bahwa persediaan BBM di daerah ini aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan. Hal serupa juga disampaikan oleh pihak Pertamina saat menghadapi aksi unjuk rasa masyarakat yang berlangsung pada hari Kamis pekan lalu.

Namun di lapangan, warga justru merasakan kelangkaan BBM yang terasa cukup parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Muncul pertanyaan publik yang mengemuka: mengapa pernyataan stok aman tidak sesuai dengan kenyataan? Apa yang sebenarnya terjadi di balik permasalahan ini? Dan sampai kapan kondisi seperti ini akan terus berlangsung?

Warga berharap pemerintah bersama manajemen Pertamina segera mencari solusi yang tepat dan cepat agar pasokan BBM kembali normal dan aktivitas masyarakat tidak lagi terganggu. Pihak berwenang diharapkan juga memberikan penjelasan yang jelas dan transparan terkait penyebab perbedaan informasi tersebut kepada masyarakat.

(Hariyoso).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *