RCNNEWS.OD //JAKARTA.
Tidak ada habis-habisnya mengupas sosok Pria Nyentrik yang terkenal ini. Nama Agus Flores sangat familiar di keluarga besar Bhayangkara atau Tribrata mulai dari tingkat brigadir hingga para jenderal. Pria yang sangat dekat dianggap seperti adik oleh mantan Presiden Jokowi, Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., Menteri Impas Jenderal Pol. (Purn.) Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H., Kakorlantas Irjen Pol. Agus Suryonugroho, SH, M.Hum dan masih banyak lagi.
Agus Flores yang masih trah Prabu Brawijaya ini, adalah model komposisi pemimpin yang lengkap dengan segudang pengalaman dan aktivitas. Kecintaannya pada korps Bhayangkara atau Kepolisian Republik Indonesia ini membuatnya total untuk membantu POLRI mendapatkan citra positif di masyarakat, hal ini Ia wujudkan dengan mendirikan PW Fast Respon Nusantara. Tentunya bukan dengan jalan yang mulus organisasi ini berjalan, karena masih banyaknya orang atau kelompok yang tidak menyukai pergerakannya dan kedekatannya dengan jajaran petinggi POLRI.
Masih belum hilang dari ingatan, 5 tahun sebelumnya sosok Agus Flores yang mencintai alam ini, diibaratkan Tokoh Antagonis yang disegani para Penambang di Magelang. Keberadaannya membuat ketar ketir para pelaku penambang ilegal yang marak disana.
Selain itu sosok Agus Flores yang sangat kental dengan budaya dan spiritual ini selalu saja membuat fenomena yang menakjubkan bagi banyak orang. Seperti belum lama ini ketika Ia mengunjungi Candi Borobudur, tanpa diduga-duga para pengunjung, Agus Flores bisa memegang Arca Kunto Bimo dan janggutnya berangsur memutih.
Memang sangat aneh, kedatangan Agus Flores ke Borobudur tanpa penghalang, didampingi Pengurus Borobudur, padahal tempat tersebut sangat Birokrasi. Selorohnya “sudah gratis, masuk tanpa hambatan.”
Apakah ini yang diramalkan Ki Joyoboyo?
Seorang Pemuda Ganteng, Gagah Berani, turunan Mataram Kuno akan hadir re-inkarnasi kembali, datang ke tanah ulayatnya di Magelang.
Bahkan masyarakat menyebut karena sudah Trah Nenek Moyangnya di bekas tanah Mataram Kuno, jadinya kedatangan dirinya Bak Seorang Baginda Raja datang kembali ke Kerajaannya.
Sekilas dilihat cara Bertapanya (lelakunya) itu agak aneh, Ia hanya berjalan jalan di Borobudur, memegang gambar relief lukisan pada dinding Candi, Agus Flores sudah mampu menafsirkan Kehidupan Sejarah dulunya seperti apa.
Dan yang uniknya saat Ia memegang Arca Kunto Bimo, hanya dimasukan sekali tangannya, bertemu tangan Agus Flores dan tangan Patung Kunto Bimo.
Saat disinggung doa apa sih yang dibaca sampai bisa seperti itu? Bisa pegang Tangan Kunto Bimo, jawabnya santai penuh guyon khasnya, “Ada deh, Saya bawa guyon aja Leluhur disini, kan mereka kangen sama aku,” ujarnya sambil tersenyum.
Menurut kebiasaan para pengunjung yang pernah ke Candi Borobudur, biasanya saat naik turun berjalan mengelilingi candi Borobudur akan terasa capek, namun tidak demikian dengan Agus Flores, sepertinya Ia tidak ada capeknya, seolah olah itu Borobudur yang dikunjunginya seperti rumahnya sendiri.
Keanehan lainnya juga pernah dialaminya pada saat ke Tanah Suci Madinah dan Mekkah Al Mukaromah, Ia selalu berhasil lolos mencium Hajar Aswad dan mengunjungi Makam Rasullullah Nabi Muhamad SAW.
Saat berada di Magelang atau di Borobudur pun Ia tidak pernah lapar, apa yang diminta pasti masyarakat suguhi, dan masyarakat seolah merasakan Tentram didekatnya, karena orangnya (Agus Flores) lebih banyak Guyon.
Bukan hanya Masyarakat biasa saja yang berteman dengan dirinya, baik Preman, mantan Preman pun berteman dengan dirinya, semua lini bisa dirangkulnya. Karena Ia seperti bunglon yang mampu beradaptasi dan diterima dengan baik dimanapun Ia berada.
Saat dikonfirmasi media, Sabtu (7/3), dengan santai dan tersenyum Agus Flores mengatakan dirinya hanya pingin Bertapa di Borobudur. Diapun diingatkan Leluhurnya yang hidup di abad ke-8, mengatakan Tanah Magelang merupakan Tanah Mataram Kuno.
Dimana abad ke-8 hingga 10 M adalah masa kejayaannya Kerajaan Mataram Kuno, yang menganut agamanya Hindu-Buddha. Kerajaan yang didirikan oleh Raja Sanjaya (Dinasti Sanjaya, Hindu) dan berkembang pesat bersama Dinasti Syailendra (Buddha).
Saat ditanyakan keberadaan Istana Mataram Kuno, dijawab olehnya dengan santai, “Ada dibawah Candi Borobudur itu.”
“Mau saya ceritakan gak? Bagaimana Sejarah Mataram Kuno, tapi kalian siapin Kopi dan Rokok, baru saya ceritakan,” ujarnya dengan guyon khasnya.
Tanpa Kopi dan Rokok, akhirnya Mas Agus ceritakan juga, dulunya (Kerajaan Mataram Kuno) didirikan oleh Raja Sanjaya.
“Raja Sanjaya ini seperti Manusia setengah Dewa, tidak tau asal usulnya , entah dari Kerajaan Kutai, Kerajaan Taruma Negara atau Sriwijaya,” ujar pria yang memiliki nama lengkap Raden Mas MH., Agus Rugiarto SH.
Agus pun menceritakan Raja Sanjaya dan Raja Balaputra Dewa itu bersaudara, selalu bertengkar seperti yang di film kartun Tom and Jerry, makanya Ayah mereka memisahkan kedua bersaudara ini. Balaputra Dewa ditempatkan di wilayah Barat, mendirikan Kerajaan Sriwijaya dan Raja Sanjaya ditempatkan di wilayah Timur yang akhirnya mendirikan Kerajaan Mataram Kuno.
Lanjut Agus, tepat pada tahun 732 Masehi, didirikanlah Kerajaan Mataram Kuno oleh Raja Sanjaya sesuai Prasasti Canggal, di Magelang.
Ternyata dua Wangsa ini, Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra saling berselisih, dan kelak akan damai saat disatukan kembali melalui Pernikahan Rakai Pikatan (Dinasti Sanjaya, Hindu) dan Pramodhawardhani (Dinasti Syailendra, Buddha) sekitar tahun 832 Masehi yang merupakan pernikahan politik penting yang bertujuan menyatukan dua Wangsa terbesar di Jawa, mengakhiri ketegangan agama, dan menciptakan harmoni. Pernikahan ini menstabilkan Kerajaan Mataram Kuno meskipun memicu konflik dengan Balaputradewa.
Dan di tahun 898-910 Masehi kerajaan ini mengalami puncaknya dengan Raja rajanya:
1. Raja Sanjaya (717-760)
2. Rakai Panangkaran/Dyah Pancapana (760-775)
3. Rakai Panunggalan/Dharanindra/Dharmatungga(775-800)
4 Rakai Warak/Samaragrawira/Samaratungga (812-833)
5. Rakai Garung (832)
6. Pramodhawardhani (833-856)
7. Rakai Pikatan/Empu Manuku (838-855)
8. Rakai Kayuwangi/Dyah Lokapala (855-885)
9. Rakai Panumwangan/Dyah Dewendra (885-887)
10. Rakai Gurunwangi/Dyah Badra/Dyah Saladu (887)
11. Rakai Watuhumalang/Empu Teguh (894-898)
12. Rakai Watukura/Dyah Balitung (898/910)
13. Rakai Hino/Empu Daksa (910-919)
14. Rakai Layang/Dyah Tulodong (919-921)
15. Rakai Sumba/Dyah Wawa (924/928)
16. Mpu Sindok (928-929)
17. Empu Sindok (929-947)
18. Isanatunggawijaya (947-9xx)
19. Makutawang Sawardhana (9xx-985)
20. Dharmawangsa (985-1007)
Menurutnya masa itu, tidak ada Istilah Jawa Barat, Tengah dan Timur, yang ada hanya batas wilayah Kerajaan.
Lantas runtuhnya Mataram Kuno, katanya, saat Kerajaan Sriwijaya menyerang, dan Raja terakhir Mataram Kuno Raja Darmawangsa, mengikuti Anak Mantunya Raja Airlangga di Kerajaan Kahuripan.
Menutup pembicaraannya Agus pun berseloroh, “Tunggu ya episode kedua yang lebih seru ceritanya, kisah cinta Putri Raja Darmawangsa dan Raja Airlangga. Tapi jangan lupa siapkan kopi dan rokoknya,” ujarnya.
(Hariyoso).











