RCNNEWS.ID //PALANGKA RAYA.
Wartawan senior Kalimantan Tengah, Hartany Soekarno, mengapresiasi kedudukan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang berada di bawah Presiden sesuai amanat konstitusi. Namun, ia menegaskan bahwa institusi ini harus tetap tegak pada jati dirinya sebagai abdi utama bangsa dan negara, bukan sebagai alat kekuasaan.
Menurut Hartany, prinsip dasar Polri telah jelas tercantum dalam Tri Brata, khususnya Brata pertama “Rastra Sewakottama” yang bermakna Polri sebagai abdi utama Nusa dan Bangsa. Ikrar tersebut telah menjadi pedoman moral bagi anggota Polri sejak 1 Juli 1954.
“Polri tumbuh dan berkembang dari rakyat, untuk rakyat. Karenanya, Polri harus berinisiatif bertindak sebagai abdi, pelindung, dan pengayom masyarakat, bukan sebagai penguasa,” tegasnya pada Selasa (27/1/2025).
Ia juga menekankan pentingnya sikap dan tindakan Polri yang independen serta profesional, bahkan dalam hubungan dengan kekuasaan tertinggi negara. “Sekalipun itu Presiden. Termasuk juga harus menjaga jarak dari kepentingan oligarki,” ujarnya.
Hartany menyebutkan bahwa nilai-nilai dasar Polri tersebut selaras dengan filosofi kepolisian modern yang dianut banyak negara, yaitu new modern police philosophy dengan semboyan “Vigilant Quiescant” yang berarti “Kami berjaga sepanjang waktu agar masyarakat tetap tenteram”.
Lebih lanjut, ia mengingatkan agar pemerintah tidak membebani Polri dengan kepentingan politik praktis. Menurutnya, keterlibatan Polri dalam agenda politik di luar tugas pokok hanya akan merusak marwah institusi dan kepercayaan publik.
“Polri tidak boleh ditarik menarik untuk kepentingan politik siapa pun. Tugas utamanya tetap sebagai penjaga kamtibmas, melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat,” pungkasnya.
(Hariyoso).











